Jennifer Bristol baru-baru ini kehilangan salah satu kawan lamanya
gara-gara berdebat di Facebook soal anjing pit bull. Masalahnya berawal
saat dia menyertakan artikel koran yang menyebut bahwa pit bull adalah
jenis anjing yang paling bahaya di New York City tahun lalu. “Apa
pendapat Anda…833 insiden dengan pit bull,” tulis Bristol, publisis dan
advokat kesejahteraan hewan di Manhattan.
Teman-temannya, kebanyakan juga bekerja di bidang kesejahteraan
hewan, langsung berbagi opini. Salah satunya mengatakan bahwa “pit bull”
bukanlah satu jenis ras resmi; yang lain ada yang mengatakan bahwa
“pemilik tidak bertanggung jawab” sering terlibat saat anjing menjadi
kasar. Sementara ada yang mengatakan labrador hitam malah lebih sering
menggigit.
Kemudian teman masa kecil Bristol mengatakan, “Ini dari seorang
dokter di ruang gawat darurat, dalam 15 tahun pekerjaan saya, saya belum
pernah melihat gigitan dari anjing golden retriever yang harus dirawat
di ruang operasi atau membunuh korbannya.”
Komentar ini pun ramai mendapat balasan. Satu orang meminta untuk
melihat penelitian ilmiah si dokter, yang lain menuduh dia tak
mengonfirmasi pada para pasiennya apakah mereka benar-benar digigit oleh
pit bull. Komentar lain menyarankan si dokter untuk “keluar dari ruang
gawat darurat” untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Konyol sekali,” kata Bristol, yang memilih tak ikut campur dalam
perdebatan. Teman lamanya itu, si dokter gawat darurat, langsung
menghilangkan dia dari daftar teman keesokan paginya. Itu terjadi
delapan bulan lalu. Sampai sekarang, ia belum mendengar kabar lagi dari
si teman.
Kenapa kita sangat kejam satu sama lain di dunia maya? Entah itu di
Facebook, Twitter, forum atau bagian komentar situs, kita berani
mengatakan pada orang lain hal-hal yang tidak akan kita sampaikan
langsung di depan orang tersebut. Tidakkah kita seharusnya berlaku
sopan?
Anonimitas adalah kekuatan besar. Bersembunyi di balik nama palsu
membuat kita tak terkalahkan, dan tak tampak. Meski tanpa anonimitas
pun, pada banyak situs, identitas kita tetap bisa diketahui. Dan kita
sama sekali tidak anonim di Facebook. Bahkan saat kita mengungkap
identitas asli, tetap saja kita tak bisa berlaku sopan.
Menurut sebuah riset yang akan dipublikasikan dari para profesor di
Columbia University dan University of Pittsburgh, membuka Facebook
terbukti menurunkan kendali diri. Efeknya paling terlihat dengan
orang-orang yang jaringan Facebooknya berisi teman-teman dekat, kata
para peneliti.
Kebanyakan dari kita mempresentasikan citra yang berlebihan dari diri
kita di Facebook. Citra positif ini–dan dorongan positif yang kita
dapatkan dalam bentuk “like” mendorong rasa percaya diri kita. Kita pun
cenderung besar kepala dan menunjukkan kendali diri yang rendah.
“Bayangkan ini sebagai efek dorongan: Anda merasa percaya diri dan
nyaman sehingga merasa bisa melakukan itu,” kata Keith Wilcox, asisten
profesor pemasaran di Columbia Business School dan salah satu penulis
laporan. “Dan Anda ingin tetap merasa seperti itu, itu mungkin
menjelaskan kenapa orang bisa keras membalas orang-orang yang tidak
memiliki opini yang sama.” Tipe perilaku tanpa kendali, dan besar kepala
ini “sering ditunjukkan oleh orang-orang yang dipengaruhi penilaiannya
oleh alkohol,” kata dia.
Para peneliti melakukan lima rangkaian tes. Salah satunya, mereka
bertanya pada 541 pengguna Facebook berapa lama waktu yang mereka
habiskan di sana dan berapa banyak teman dekat yang mereka punya di
jaringan Facebook. Mereka juga ditanyai soal aktivitas offline, termasuk
soal hutang dan penggunaan kartu kredit, berat badan serta kebiasaan
makan dan seberapa sering mereka bersosialisasi secara langsung dengan
orang lain dalam seminggu.
Mereka yang sering menghabiskan waktu online dan memiliki banyak
teman dekat dalam jaringan mereka lebih mungkin makan banyak tak teratur
dan memiliki indeks massa tubuh yang lebih tinggi, termasuk juga
memiliki hutang kartu kredit dan skor kredit yang rendah, menurut
penelitian tersebut. Penelitian lain menemukan bahwa mereka yang
menggunakan Facebook selama lima menit dan memiliki jaringan pertemanan
kuat akan lebih memilih ngemil kue chocolate chip daripada snack
kesehatan
Dalam penelitian ketiga, para profesor memberi peserta satu set
anagram yang tak mungkin dipecahkan, tes IQ yang dihitung waktunya, lalu
mengukur berapa lama waktu yang digunakan para peserta sampai mereka
menyerah. Mereka menemukan orang-orang yang menghabiskan lebih banyak
waktu di Facebook lebih mudah menyerah melakukan tugas sulit. Juru
bicara Facebook menolak berbicara.
Lalu kenapa begitu banyak orang agresif online? Pertimbangkan
komentar yang muncul akan kolom ini di halaman Facebook, dari seseorang
yang tidak saya kenal, “Kenapa saya harus menulis ke Anda? Anda tidak
akan membalas.”
Kita cenderung tidak malu-malu di dunia nyata karena kita tidak harus
melihat reaksi dari orang lain yang kita komentari, kata Sherry Turkle,
psikolog dan profesor ilmu sosial ilmiah dan teknologi di Massachusetts
Institute of Technology. Karena sangat sulit melihat dan fokus pada
kesamaan kita dengan orang lain, maka kita cenderung merendahkan derajat
satu sama lain, kata dia.
Secara mengejutkan, kata Dr Turkle, banyak orang lupa bahwa mereka
berbicara keras-keras saat berkomunikasi online. Terutama saat mengirim
sesuatu dari smartphone, “Anda mengatakan sesuatu, tapi rasanya seperti
Anda tidak melakukan apa-apa,” kata dia. “Jadi ketika Anda bilang, ‘Saya
benci kamu’ menggunakan benda kecil ini (smartphone), rasanya seperti
main-main. Tidak terasa seperti bermakna besar.”
Dan buat Facebook, namanya adalah bagian dari masalahnya.
“Menjanjikan wajah dan tempat di mana kita akan memiliki teman,” kata Dr
Turkle, penulis buku “Alone Together: Why We Expect More from
Technology and Less from Each Other.” “Jika Anda mendapat komentar jelek
di sana, Anda tidak siap. Sehingga Anda merasa dikhianati dua kali, dan
Anda menyerang balik.”
Di Amerika Serikat, ini adalah musimnya saling serang soal politik,
seperti yang dialami Chip Bolcik. Bolcik, 54, seorang pembaca berita
televisi dan seorang independen (tak memilih Partai Republik atau
Demokrat) dari Thousand Oaks, California, suka menanyakan hal-hal
politik di halaman Facebooknya. “Saya sangat tertarik dengan cara
berpikir orang-orang yang berbeda pandangan dari saya,” kata dia. “Dan
kadang saya akan menanyakan hal-hal provokatif hanya demi hiburan
melihat orang-orang saling berteriak satu sama lain.”
Dalam beberapa bulan terakhir, Bolcik kehilangan dua temannya karena
perdebatan politik. Teman yang pertama marah pada dia setelah ia
mengirim status yang meminta orang berdebat apakah penganut Mormon
tergolong Kristen. (“Kamu sangat jauh dari faktanya, kamu tidak tahu apa
yang kamu bicarakan,” ia menulis di halamannya, kemudian diikuti
dengan, “Kamu seorang idiot.”)
Bolcik pun memblok si teman itu dari halamannya. “Saya akan
membebaskan diskusi ini sampai kamu mengganggu saya,” kata dia.
Kadang-kadang Bolcik menghapus seluruh percakapan.
Pertemanan kedua malah berakhir lebih kasar, setelah satu teman
Bolcik menyinggung beberapa teman Facebooknya, termasuk Bolcik sendiri,
dengan berulangkali menuliskan pandangannya. “Dia terus-terusan
mengulang politiknya, dan tidak berdiskusi,” kata Bolcik. Bolcik
kemudian menulis ke temannya dan mengatakan ia akan memblok dari halaman
tersebut jika tidak mengubah perilakunya. Sebagai balasannya, teman
tersebut membalas dengan bahasa vulgar dan menghapus Bolcik dari daftar
temannya. “Saya cukup marah,” kata Bolcik.
Meski begitu, Bolcik tak bisa menahan diri dari mengipasi api. Saat
sebuah diskusi politik menjadi panas dan dia tak suka arahnya, dia akan
mengirim pesan privat ke salah satu kawannya yang suka menyerang dan
mengundang orang tersebut dalam diskusi. Kemudian mereka akan membaca
diskusi tersebut dan menyerang orang yang membuat marah Bolcik, “dan
saya terlihat seperti orang baik.”
sumber : http://teknologitinggi.wordpress.com/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar